Majalah Mustahiq Edisi Oktober 2019

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sahabat Mustahiq yang dirahmati Allah, di akhir zaman seperti sekarang ini sudah marak kita jumpai terjadinya praktik maksiat di beberapa tempat. Para pelaku maksiat seolah-olah tak merasa malu ataupun sungkan dengan orang lain di sekitarnya. Sehingga bisa kita ambil kesipulan bahwa jika kepada sesama manusia pun rasa malu hilang, apalagi kepada Allah SWT.

Perlu kita sadari bersama sebagai kaum mukminim, bahwa sedikitnya malu adalah bagian dari matinya hati dan ruh. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak islam itu salah rasa malu". (HR. Ibnu Majah No. 4181). Maka jika rasa malu telah hilang dalam diri seorang hamba, maka hilang pula akhlaknya. Padahal, pepatah mengatakan bahwa hati akan menyala dengan akhlak mulia seperti kayu bakar yang dinyalakan oleh api.

Dianata bentuk malu yang pertama adalah malunya seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan rasa malu kepada Allah SWT, Insya Allah, kita akan mendapatkan kebahagiaan hakiki di akhirat. Malu kepada Allah SWT membentengi diri dari tindakan uyang dilarang oleh syariat. Malu inilah yang didapat melalui proses mengenali keagungan-Nya, merasakan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, merasa diawasi oleh-Nya dan kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui sekalipun itu tersimpan di dalam hati manusia.

Sahabat, rasa malu juga perlu dibiasakan kepada sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang masih memiliki rasa malu kepada sesama pastinya ia akan menjauhkan diri dari akhlak dan perilaku yang tercela, menjauhkan diri dari berkata kotor, tidak bangga dengan perbuatan maksiat dan sebagainya serta tidak menampakkan aibnya kepada orang lain. Mari hiasi diri kita dengan sifat malu, serta senantiasa terus mendalami ilmu agama yang menyebabkan tumbuhnya rasa malu dalam diri kita

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Redaksi Majalah Mustahiq